Deus Absconditus dan Penderitaan Manusia dalam Teologi Martin Luther
Salib sebagai Locus Penyataan Allah di Tengah Bencana dan Pandemi
Keywords:
Deus Absconditus, Deus Revelatus, Teologi Salib, Penderitaan , Martin LutherAbstract
Penderitaan memunculkan pertanyaan teologis yang tak kunjung usai: di manakah Allah ketika manusia menderita? Teologi katafatik cenderung mereduksi misteri Allah pada apa yang dapat dijangkau nalar, sedangkan teologi apofatik membiarkan Allah tidak dikenal dan jauh dari penderitaan. Penelitian kualitatif kepustakaan ini mengkaji konsep Deus Absconditus Martin Luther dan kaitannya dengan Deus Revelatus sebagai dasar untuk memahami penderitaan manusia. Data diperoleh dari karya Luther, terutama The Bondage of the Will, serta kajian Dillenberger, Mjaaland, Forde, McGrath, dan Kopperi, lalu dianalisis secara deskriptif-kritis. Hasilnya menunjukkan bahwa pengenalan akan Allah menurut Luther bertumpu pada inisiatif Allah sendiri; bahwa ketersembunyian dan penyataan Allah membentuk satu kesatuan paradoks yang bertemu dalam salib sebagai locus penyataan sub contrario; bahwa penderitaan (Anfechtung) dimaknai melalui teologi salib, bukan dijelaskan secara rasional; dan bahwa solidaritas Allah berlanjut melalui inkarnasi, Firman, dan sakramen. Dikontekstualisasikan pada bencana Sibolga dan pandemi Covid-19, temuan ini mengoreksi pandangan penghukuman dan teologi kemakmuran serta memanggil gereja, khususnya HKBP, pada pelayanan yang inklusif dan tidak transaksional.



